News

Menteri Keuangan sebut APBN Defisit Rp 54,6 Triliun Bulan Pertama 2026

23 Feb 2026 by Author
photo

Jakarta, Senin 23 Februari 2026 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) defisit sebesar Rp 54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per 31 Januari 2026.

“Posisi defisit APBN Rp 54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Februari 2026 di Jakarta, Senin (23/2/2026) dilansir Antara.

Meskipun defisit, pendapatan negara mengalami pertumbuhan positif sebesar 20,5 persen (year-on-year/yoy).

Nilai realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp 172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Kinerja itu ditopang oleh penerimaan perpajakan yang terealisasi sebesar Rp 138,9 triliun atau 5,2 persen dari target, dengan rincian penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun (4,9 persen target) dan kepabeanan dan cukai Rp22,6 triliun (6,7 persen target).

“Pajak di bulan Januari itu tumbuh 30,7 persen dibandingkan tahun lalu. Ini artinya ada perbaikan makro sedikit atau banyak dari efisiensi pengumpulan pajak di Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Saya harap ke depannya berlanjut terus,” jelas Purbaya.

Sementara itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 33,9 triliun atau 7,4 persen dari target. Meski pertumbuhannya terkoreksi 20,4 persen, Purbaya menyebut kinerja ini menunjukkan pemulihan di luar komponen non-berulang tahun lalu.

Dari sisi belanja, realisasi belanja negara tercatat sebesar Rp 227,3 triliun atau 5,9 persen dari target, tumbuh 25,7 persen (yoy).

Menurut Menkeu, pertumbuhan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah mengakselerasi penyaluran belanja sejak awal tahun, khususnya dalam mendukung program prioritas, menjaga daya beli masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.

Pertumbuhan belanja pemerintah pusat (BPP) mencapai 53,3 persen (yoy) dengan realisasi Rp 131,9 triliun atau 4,2 persen dari target.

Adapun realisasi transfer ke daerah (TKD) mengalami pertumbuhan tipis 0,6 persen (yoy) dengan realisasi Rp 95,3 triliun atau 13,8 persen dari target.

Dengan kinerja itu, keseimbangan primer tercatat defisit Rp 4,2 triliun. Bendahara negara mengatakan realisasi ini mencerminkan posisi fiskal yang terkelola dengan hati-hati.

Sementara realisasi pembiayaan anggaran tercatat sebesar Rp 105,1 triliun atau 15,2 persen dari target.

Purbaya memastikan pembiayaan anggaran dilakukan secara terukur dan antisipatif untuk menjaga likuiditas serta stabilitas pasar keuangan.

Secara keseluruhan, Purbaya menyatakan APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai “shock absorber” sekaligus motor penggerak ekonomi.

“Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, dan defisit yang tetap terkendali, kami optimistis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026,” tutur Menkeu.

Scroll to Top