New York, Selasa 30 Desember 2025- Majalah dan jurnal berpengaruh di AS, Foreign Affairs, malaporkan pada hari Senin (29/12) bahwa deepfake-teknologi AI yang digunakan untuk membuat atau memanipulasi video, gambar, atau audio agar terlihat dan terdengar sama dengan aslinya-berpotensi memicu perang nuklir
Menurut majalah tersebut, deepfake dapat membuat para pemimpin negara melancarkan serangan nuklir. Foreign Affarirs menyoroti kemungkinan pelimpahan kewenangan penggunaan nuklir kepada sistem berbasis AI, dimana teknologi tersebut bisa dipakai untuk meyakinkan pemimpin negara bahwa negaranya sedang diserang dengan senjata nuklir
Deepfake juga bisa disalahgunakan untuk memanipulasi pemimpin negara agar melancarkan serangan nuklir pendahuluan, atau bahkan dimanfaatkan untuk merekayasa alasan perang, penggalangan dukungan publik terhadap konflik, serta memecah belah bangsa
Dalam sebuah keterangan terpisah, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP), Philip Schellekens, memperingatkan bahwa penerapan AI di bidang militer bisa menjadi ancaman bagi keberadaan manusia dan bisa menimbulkan korban jiwa yang besar
Schellekens mengaskan bahwa pemanfaatan AI harus bertanggung jawab dan diatur sedemikian rupa agar tidak disalahgunakan
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News