SURABAYA, 8 JANUARI 2026 – Mengantisipasi potensi cuaca ekstrem di awal tahun 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga akhir Januari 2026.
Kebijakan ini diambil menyusul peringatan dini dari BMKG Juanda terkait tingginya curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Perpanjangan OMC dilakukan atas arahan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, seiring prediksi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Januari dan Februari 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan, berdasarkan analisis BMKG Juanda, potensi hujan dengan intensitas tinggi di Jawa Timur pada Januari 2026 mencapai sekitar 58 persen, sementara pada Februari diperkirakan 22 persen.
“Atas arahan Ibu Gubernur, kami melanjutkan langkah strategis penanganan cuaca ekstrem melalui Operasi Modifikasi Cuaca yang dilaksanakan mulai 1 hingga 31 Januari 2026,” kata Gatot dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).
OMC yang telah berjalan sejak awal Januari ini sudah dilakukan tujuh sorti, dengan wilayah sasaran meliputi selatan Jawa Timur, selatan Pulau Madura, serta beberapa titik di wilayah barat Jatim. Sementara pada Desember 2025, BPBD Jatim mencatat telah melaksanakan 50 sorti OMC di berbagai daerah rawan cuaca ekstrem.
Selain OMC, BPBD Jatim bersama BPBD kabupaten/kota dan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Jatim juga memperkuat langkah mitigasi bencana. Upaya tersebut meliputi normalisasi dan pembersihan sungai, kesiapsiagaan personel dan peralatan, hingga pelatihan serta peningkatan kapasitas masyarakat di wilayah rawan bencana.
Gatot juga memaparkan, sepanjang 2025 Jawa Timur mengalami 531 kejadian bencana, yang sebagian besar didominasi bencana hidrometeorologi. Rinciannya, banjir 149 kejadian, angin kencang 147 kejadian, dan tanah longsor 21 kejadian.
“Mayoritas bencana tersebut dipicu oleh cuaca ekstrem yang terjadi hampir merata di Jawa Timur,” pungkasnya.